Sejarah Ronggeng Gunung, Disukai Masyarakat hingga Lodaya

PANGANDARAN – Kesenian tarian ronggeng gunung selain disukai oleh masyarakat juga disukai oleh lodaya atau maung siliwangi, hal tersebut berdasarkan sejarah yang dialami oleh salah satu pelaku ronggeng gunung di tahun 1930.

Salah satu budayawan Pangandaran Aceng Hasyim mengatakan, kesenian ronggeng gunung pernah mengalami krisis regenerasi, hal tersebut terjadi lantaran sumpah salah satu penari ronggeng gunung bernama Indung Beunti yang berikrar agar anak cucu dan keturunannya jangan sampai ada yang menjadi penari ronggeng gunung.

“Adegan tarian ronggeng gunung memiliki aturan pementasan atau pakem, salahsatunya jangan menghibur atau melakukan pagelaran di luar daerah kerajaan Tatar Galuh,” kata Aceng.

Namun salah satu rombongan ronggeng gunung yang dipimpin oleh Indung Beunti asal daerah Ciparakan Desa Tunggilis Kecamatan Padaherang pernah diundang oleh lodaya atau maung siliwangi di salah satu daerah yang masuk ke wilayah kerajaan Sukapura tepatnya di daerah Desa Kawasen Kecamatan Banjarsari dengan iming-iming akan disediakan sesajen kepala kebo sebanyak tiga ekor kerbau.

“Pada pementasan yang digelar sejak pagi dan siang hingga sore penonton dan yang ikut melakukan tarian ronggeng gunung berwujud manusia,” tambahnya.

Sumber : http://news.okezone.com/read/2016/07/13/525/1437421/sejarah-ronggeng-gunung-disukai-masyarakat-hingga-lodaya

Posted on: Jul 14, 2016, by : mitra-sdm

Tinggalkan Balasan